Ummat akhir zaman adalah ummat dakwah, sebagaimana Allah berfirman kepada Nabi Isa alahis salam dalam hadits qudsi : ”Ya Isa, sesungguhnya aku akan mengutus sesudahmu suatu ummat yang jika mengenai kepada mereka apa yang mereka suka, maka mereka akan memuji dan bersyukur; tetapi jika mengenai pada mereka apa yang mereka benci, maka mereka bersabar dan berihtisab. Mereka tak ada ilmu (bodoh) dan mereka tak ada kelembutan (kasar). Maka Nabi Isa heran dan bertanya,”Ya Allah, bagaimana ummat yang diutus (penerus kerja Nabi-nabi) orangnya bodoh dan kasar?” Maka Allah berfirman,”Aku yang akan memberikan ilmuKu dan kelembutanKu.”
Jadi ummat akhir zaman ini dihantar bukan semata-mata hanya untuk ibadah saja kepada Allah sebagaimana ummat terdahulu, tetapi ummat akhir zaman ini punya tugas sebagaimana tugas nabi-nabi yaitu buat kerja dakwah. Kalau ummat ini mengerjakan tugasnya sebagai da’i maka Allah akan memberikan dua perkara, yaitu ilmuNya (ilm) dan kelembutanNya (hilm).
Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada zaman jahiliyah, yaitu pada zamannya orang yang bodoh-bodoh dan kasar-kasar, sehingga suka bertengkar dan berperang. Masalah sepele dan remeh menjadikan mereka waktu itu suka berperang antar suku dan kabilah. Permusuhan diantara mereka bukan hanya satu dua tahun, tetapi puluhan bahkan ratusan tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada mereka, dan Rasulullah membentuk mereka dengan usaha dakwah, dan akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala telah merubah dan memperbaiki kehidupan mereka. Mereka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang awalnya adalah orang yang bodoh lagi kasar, telah dirubah oleh Allah menjadi orang yang mulia dan diridhoiNya, yang dijanjikan dengan surga yang penuh dengan kenikmatan. Untuk menjadikan agar ummat ini mulia dan diridhoi Allah sampai hari kiamat, tidak ada jalan lain kecuali meniru mereka yang telah sukses yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat raadhiyallahu anhum, dengan buat usaha dakwah.
Jadi perbaikan ummat hanya ada dalam kerja dakwah, sebagaimana firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ” (QS Al Ahzab 70-71)
Kata Quuluu : katakanlah/ucapkanlah, maksudnya mengucapkan di depan manusia atau dakwahkan. Setelah dakwah barulah akan ada perbaikan amal. Jika terjadi perbaikan amal, maka secara otomatis terjadi perbaikan iman, karena iman dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di dalam Al Qur’an sering dijumpai الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ : orang yang beriman dan beramal shaleh. Amal shaleh selalu dirangkaikan dengan iman. Iman dan amal shaleh ibarat gula dengan manis, dimana semakin banyak gulanya akan semakin manis rasanya. Demikian pula semakin tinggi dan sempurna iman seseorang, maka semakin banyak dan sempurna amal shalehnya.
Ummat akhir zaman adalah ummat yang ke 70 dan sudah berlalu 69 ummat yang telah dihancurkan oleh Allah, karena usaha dakwah. Sudah menjadi sunnatullah bahwa jika dakwah telah datang pada ummat, maka yang menerima dakwah akan dimuliakan dan yang menolak dakwah akan dihancurkan. Pada ummat terdahulu yang berdakwah adalah Nabinya dan ummatnya hanya ibadah kepada Allah. Sedangkan pada ummat akhir zaman, Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah memberikan tugas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar membawa agama yang sempurna dan menjadikan seluruh sahabat sebagai da’i, meneruskan kerja Nabi-nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam waktu yang sangat singkat, selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari telah mampu mengamalkan agama secara sempurna dan sebelum wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada seluruh sahabat agar menyampaikan agama kepada yang tidak hadir dan generasi berikutnya. Allah telah memberikan Surat Keputusan (SK) melalui firmanNya dalam QS Yusuf ayat 108 :
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya : “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
Kalau ummat terdahulu jika ingin buat dakwah melalui permintaan Nabinya, sebagaimana Nabi Musa alaihis salam ketika meminta Nabi Harun álaihis salam menemaninya berdakwah. Permintaan Nabi Musa alaihis salam diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi Allah mengungkit-ungkit masa lalu Nabi Musa alahis salam, untuk mengingatkan siapa sebenarnya Nabi Musa alaihis salam. Allah memberitahu bahwa Nabi Musa alaihis salam telah diberi nikmat yang banyak, sebagaimana firman Allah dalam QS Thaha ayat 39 :
Artinya : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa. Dan sesungguhnya Kami telah member nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan. Yaitu ‘letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke Sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh musuhKu dan musuhnya (Fir’aun). Dan aku tidak melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari Ku dan suapaya kamu diasuh di bawah pengwasan Ku.”
Nabi Isa alahis salam ketika mengangkat Hawariyyin jadi da’i, beliau alaihis salam meminta terlebih dahulu kepada Hawariyyin ‘Man anshary ilallah? Artinya siapa yang mau menolong saya (untuk menegakkan agama) Allah ? Maka Hawariyyin menjawab : “Kami yang akan menolong (agama) Allah.” Jadi Hawariyyin diangkat menjadi da’i atas permintaan Nabi Isa alaihis salam. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam QS Ali Imram ayat 52 :
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Artinya : “Maka tatkala 'Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri."
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 40 tahun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat tarbiyah dari Allah sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Bahkan semua Nabi-nabi di tarbiyah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baru kemudian diangkat menjadi Nabi atau Da'i.
Tarbiyah Allah kepada Nabi Yusuf alahis salam
Nabi Yusuf alaihis salam mendapat tarbiyah dari Allah dengan dipisahkan dari ayahnya yang seorang Nabi dan yang memberikan kasih sayang penuh kepadanya. Allah menghendaki agar Yusuf alaihis salam lepas dari penjagaan semua makhluk dan hanya bergantung kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Saudaranya ditumbuhkan rasa hasad/dengki kepada Yusuf alaihis salam dan membuangnya ke dalam sumur sehingga beliau alaihis salam seorang diri. Allah menghantar Malaikat yang berada di langit ke empat untuk menunjukkan kepada Nabi Yusuf alaihis salam akan kehebatan Allah. Ketika Nabi Yusuf alaihis salam seorang diri barulah bergantung kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Kemudian Nabi Yusuf alaihis salam dijual dipasar, dibeli oleh Kerajaan, tinggal di istana dan mulailah datang kesenangan. Allah menghendaki agar Nabi Yusuf alaihis salam lepas dari kesenangan, sehingga Allah datangkan fitnah dari Zulaikha, istri dan Raja Azis yang menggodanya, yang akhirnya Nabi Yusuf alaihis salam dipenjara selama 2 tahun.
Di dalam penjara Nabi Yusuf alaihis salam tawajjuh kepada teman di penjara, ketika temannya hendak keluar penjara, dengan menitipkan pesan agar temannya itu menyebut namanya kepada Raja Mesir pada saat itu bahwa Nabi Yusuf alaihis salam yang ada dalam penjara tahu tafsir mimpi. Karena Nabi Yusuf alaihis salam tidak bertawajjuh kepada Allah yang bisa mengeluarkannya dari penjara, maka temannya yang telah berada di luar dilupakan syetan untuk bicara kepada Raja. Akhirnya Nabi Yusuf alaihis salam ditambah hukumannya menjadi 9 tahun.
Tarbiyah Allah kepada Nabi Musa alahis salam
Nabi Musa alahis salam berada dalam istana Fir’aun dan dalam perlindungan Fir’aun, namun Allah menghendaki Nabi Musa alahis salam agar lepas dari semua itu. Tatkala Nabi Musa alahis salam memisahkan perkelahian antara orang Kibti dan seorang lagi dari Bani Israil, tanpa disengaja Nabi Musa alahis salam telah membunuh orang Kibti, sehingga Nabi Musa alahis salam lari dari Mesir, pergi ke Madyan menjadi pembantu Nabi Su’aib alahis salam. Selepas 10 tahun Nabi Musa alahis salam kembali ke Mesir karena kangen dengan keluarganya, tetapi dalam perjalanan pulang, Allah subhanahu wa ta’ala melantik Nabi Musa alahis salam sebagai Nabi atau da’i untuk buat usaha dakwah kapada Fir’aun dan Bani Israil.
Sebelum diangkat menjadi Nabi, Allah subhanahu wa ta’ala mentarbiyah Nabi Musa alahis salam. Allah bertanya :
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ
Artinya : ” Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” (QS Thaha 17)
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ
Artinya : “Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". (QS Thaha 18)
Lihatlah bagaimana jawaban Nabi Musa alahis salam yang menunjukkan yakin kepada tongkatnya bahwa tongkat itu baginya ada banyak kegunaan/manfaat. Kemudian Allah berfirman :
قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ
Artinya : “Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS Thaha 19)
Allah perintahkan kepada Nabi Musa alahis salam untuk melemparkan tongkatnya dan berubahlah tongkat itu menjadi ular yang besar yang bergerak dengan cepat, sehingga Nabi Musa alahis salam lari ketakutan. Sebenarnya Allah ingin memperlihatkan bahwa tongkat yang sebelumnya menurut Nabi Musa alahis salam merasa membawa manfaat, oleh Allah dirubah menjadi membawa mudharat yaitu berubah menjadi ular yang mengejar Nabi Musa alahis salam.
فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ
Artinya : “Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS Thaha 20-21)
Setelah itu Allah memerintahkan Nabi Musa alahis salam untuk memegang kembali kepala ular itu dengan tangannya, maka berubahlah ular itu menjadi tongkat kembali. Barang yang tadinya mudharat telah berubah lagi menjadi manfaat. Hal ini untuk mentarbiyah Nabi Musa alahis salam bahwa manfaat dan mudharat datang bukan karena benda-benda, tetapi semuanya datang dari allah subhanahu wa ta’ala.
Ketika Nabi Musa alahis salam dikejar Fir’aun, di depannya lautan dan dibelakangnya tentara Fir’aun. Sedangkan semua pengikutnya dari Bani Israil merasa putus asa dan memastikan binasa, tetapi Nabi Musa alahis salam mengatakan : “Tidak ! Tuhanku bersamaku dan akan menunjuki aku….!”
Tarbiyah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam
Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam masih di kandungan ibunya, ayah tercinta meninggal dunia, beberapa tahun kemudian ibunya juga meninggal dunia. Tempat berlindung pindah ke kakeknya, tetapi kakeknya juga meninggal dunia. Kemudian pamannya, Abu Thalib sangat menyayangi dan melindungi beliau shallallahu ‘alahi wasallam, namun tidak berapa lama pamannya juga meninggal dunia. Tidak ada lagi sandaran kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semua tarbiyah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, agar yakin 100 % hanya kepada Allah. Tarbiyah Allah kepada semua Nabi-nabi adalah agar hari demi hari iman mereka semakin meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar