Jumat, 29 April 2011

Sejarah Kota Mekkah

Pada saat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diperintah untuk berdakwah kepada ummatnya, maka istrinya yaitu Siti Hajar diperintah untuk tinggal di sekitar lembah Mekkah, dimana saat itu tidak ada asbab kehidupan (tidak ada pohon tempat berlindung, tidak ada manusia sebagai tetangga, dan tidak ada sumber air) dan yang ada hanyalah asbab kematian. Seorang alim mengatakan bahwa di sekitar Ka’bah tidak ada manusia yang mau tinggal bahkan jin tidak mau hidup disana. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat itu betul-betul sulit untuk bisa bertahan hidup.
Pada masa yang lain, ada dua Kerajaan besar di dunia pada waktu yaitu Romawi dan Parsi, tetapi tidak satupun dari keduanya yang mau menjajah Mekkah. Hal ini karena tempatnya gersang tidak banyak menghasilkan faedah dan daerahnya panas dan tandus sehingga sulit untuk transportasi. Sebelum Rasulullah lahir, Raja Habasyah ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman dengan tentara sebanyak 3000 dengan berkendaraan gajah, karena menganggap Mekkah tak punya penghasilan sedangkan Yaman pada saat itu merupakan negeri yang kaya dan melimpah.
Sedangkan orang-orang yang hidup di sekitar Mekkah, yaitu kaum Quraisy, cara mereka mencari rizki harus pergi 6 bulan ke Yaman pad musim dingin dan 6 bulan ke Syam pada musim panas. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Quraisy ayat 1 -4 :
 لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَـٰذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ
Artinya : Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”
Orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke Syam pada musim panas dan Ke Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa negeri-negeri yang dilaluinya. Ini adalah merupakan suatu nikmat yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu sudah sewajarnya mereka menyembah Allah, yang telah banyak memberikan nikmat kepada mereka.
Para masyaikh memberitahu bukan bangunan Ka’bah yang menjadikan keberkahan, tetapi amalan di di Masjidil Haram (Ka’bah) yang menjadikan keberkahan, sebagaimana do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah selesainya membangun Ka’bah :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya : “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Al Baqarah 129)
Dari ayat ini amalan yang diminta oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam do’anya setelah selesai membangun Ka’bah untuk menjadi amalan di Masjidil Haram adalah “yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau” maksudnya dakwah; “mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah)” maksudnya ta’lim wa ta’alum; mensucikan mereka maksudnya ibadah dan khidmat.
Jadi amalan yang diminta Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ada empat yaitu :  
1.       Dakwah
2.       Ta’lim wa ta’alum
3.       Dzikir Ibadah
4.        Khidmat
Keempat amalan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi kaum kafir Quraisy mengusirnya keluar dari Makkah menuju Madinah. Sesampainya di Madinah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan fikir untuk membangun rumah atau pasar, tetapi membangun masjid. Bangunannya tidak beitu bagus sampai-sampai ada orang Badui yang kencing di dalam Masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghidupkan empat amalan masjid, yaitu dakwah, ta’lim wa ta’alum, dzikir ibadah dan khidmat, sehingga keberkahan mulai tampak pada penduduk Madinah.
Dahulunya penduduk Madinah berhutang kepada orang Yahudi, tetapi setelah tahun keenam Hijriyah, orang Yahudi dijatuhkan/dikalahkan dalam Perang Khaibar, sehingga harta-harta mereka orang Yahudi menjadi milik orang Islam di Madinah. Sebelum jatuhnya benteng Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam khutbah Jum’at dan bersabda : “Mandi Juma’at wajib bagi orang yang sudah bermimpi (baligh). Maka sahabat cepat mandi setelah bekerja di kebun dan pasar. Para sahabat tak punya budak (pembantu) untuk mengerjakan pekerjaannya, sehingga mereka mengerjakan sendiri pekerjaannya dan badan mereka menjadi bau keringat. Apalagi masjid Nabi kecil, pendek, sumpek, panas, tetapi setelah kemenangan perang Khaibar, para sahabat mulai punya budak untuk mengerjakan pekerjaannya, sehingga badannya tidak bau lagi, maka berwudhu’ pada hari jum’at sudai memadai. Inilah keberkahan, tanpa usaha dunia dengan susah payah, dunia datang pada para sahabat, sehingga 60% harta orang Yahudi menjadi milik sahabat, sedangkan 40% masih menjadi milik orang Yahudi, karena semuanya dikerjakan oleh orang Yahudi. Kebunnya milik orang yahudi dan tenaganya juga orang Yahudi.
Setelah Pembukaan kota Mekkah, empat amalan ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke Mekkah dan menghidupkan empat amalan ini di Masjidil Haram. Hidupnya empat amalan ini menyebabkan di Mekkah mulai ada keberkahan dan terus terjadi sampai sekarang. Apa saja ada di Mekkah, mulai dari makanan, buah-buahan, pakaian dan kemewahan ada di Mekkah, walaupun semuanya bukan dihasilkan dari penduduk Mekkah. Dan banyak orang juga mencari pekerjaan di Mekkah.
Jadi keberkahan bukan dari bangunan, tetapi dari amalan masjid dan ada hubungannya dengan masjid. Oleh karena itu ummat akhir zaman akan selalu mendapat keberkahan, manakala ada hubungannya dengan masjid dan amalan masjid. Keberkahan bukan karena usaha atas benda-benda. Sejauh mana ada usaha atas masjid dan amalan masjid, maka sejauh itu pulalah pertolongan Allah (nushratullah) akan datang kepada ummat akhir zaman. Keberkahan akan selalu tercurah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada penduduk suatu kampong jika empat amalan ini ada pada masjidnya. Diluar itu tidak ada kejayaan dan keberkahan. Walaupun menguasai politik, namun jika jauh dari empat amalan masjid maka akan ada kehancuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar