A. Dalam Al Qur’an disebutkan maksud hidup ummat akhir zaman, pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah :
1. Dakwah, sebagaimana dalam QS Yusuf 108.
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya : “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
2. Ibadah, sebagaimana dalam QS Adz Dzariyat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.".
3. Khalifat , sebagaimana dalam QS Al Baqarah 30.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Ketiga ayat di atas merupakan maksud hidup manusia menurut Al Qur’an. Perbedaan maksud hidup ummat terdahulu dengan ummat akhir zaman terletak dalam usaha dakwah, karena pada ummat terdahulu dan jin juga beribadah, dan ummat terdahulu juga termasuk khalifah.
B. Keperluan hidup ummat akhir zaman
1. Sandang - Pakaian (malbusan)
2. Pangan – Makan (ma’kulan)
2. Pangan – Makan (ma’kulan)
3. Rumah
4. Kendaraan (markuban)
5. Pernikahan
Perbedaan Orang Beriman dan Orang Kafir dalam Menggunakan Keperluan
Perbedaan Orang Beriman dan Orang Kafir dalam Menggunakan Keperluan
Pakaian
Orang kafir menggunakan pakaian hanya sekedar untuk kesehatan dan menarik lawan jenis (pamer), sebagaimana seekor burung merak jantan memamerkan ekornya untuk menarik sang betina. Sedangkan orang beriman menggunakan pakaian untuk :
· Dakwah, contohnya satu jama’ah menggunakan gamis, sorban, jubah, celana di atas mata kaki berakhlak menampilkan Islam, maka orang yang melihatnya akan dapat hidayah dan teringat dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
· Ibadah, misalnya menggunakan pakaian terbaik untuk pergi ke masjid karena perintah Allah
· Khalifah, contohnya Hasan bin Ali radhiyallahu anhu menggunakan baju seharga 200 dirham. Melihat ini ada seorang Yahudi protes dan berkata,”Ya Hasan, apakah benar engkau keturunan Muhammad”. Hasan radhiyallahu anhu mengatakan,”Betul, kenapa? Kemudian orang Yahudi menyahut,”Kakek kamu mengatakan dunia adalah penjara bagi orang beriman dan syurga bagi orang kafir, tetapi kenapa sekarang seperti di syurga dan aku dalam keadaan miskin seperti di neraka. Engkau berpakaian mewah sedangkan aku pakaian compang camping.” Hasan bin Ali radhiyallahu anhu menjawab,”Sekiranya engkau tau apa yang akan engkau peroleh nanti di akhirat, pasti engkau tak akan berpakaian lebih buruk dari itu. Sedangkan kalau aku tahu apa yang akan kuperoleh nanti di akhirat niscaya aku akan menggunakan lebih dari ini. Ketahuilah, aku berpakaian bagus seperti ini agar orang miskin tahu bahwa aku orang kaya, sehingga mereka tidak takut minta sedekah padaku.”
Makan.
Orang kafir makan semata-mata untuk kesehatan dan mencari kekuatan badan agar dicapai kesenangan sesuai hawa nafsu. Sedangkan orang beriman, makan sesuai maksud hidupnya, yaitu :
· Dakwah, contonya sati jama’ah dari Pakistan dikirim ke Prancis. Saat hendak makan tak ada tempat yang leleuasa untuk makan bersama, sehingga mereka makan di pematang dengan nampan berjama’ah. Sewaktu mereka makan, ada satu keluarga Nasrani datang kepada mereka dan bertanya, ”sedang apa kalian duduk bersama-sama?” Mereka menjawab, ”Kami Muslimin sedang makan, kenapa bertanya?” Keluarga Nasrani menjawab, ”Di rumah kami ada cahaya yang terang dan setelah kami melihatnya ternyata berasal dari nampan tempat kalian makan.” Kemudian jama’ah mendakwahi keluarga Nasrani tersebut dan akhirnya masuk Islam. Maka orang beriman, walaupun hanya makan, tapi niatkan untuk hidayah bagi orang lain.
Cerita lain tentang jama’ah yang sedang silaturrahim/jaulah khususi, disediakan oleh tuan rumah air asin. Amir jama’ah perintah kepada makmurnya/anggotanya agar airnya diminum sampai habis. Saat jama’ah pulang, diceritakan bahwa istrinya berkata pada suaminya dengan penuh ketakutan, ”Tadi saya salah memasukkan garam ke minuman tamu kita, apakah mereka terlihat marah atau ada kesan yang lain?” Suaminya mengatakan, “Tidak! Bahkan mereka asyik minumnya sampai habis.” Istrinya berkata, “kalau begitu ikutlah bersama mereka pak, karena mereka bukan manusia biasa.” Allahu akbar…
· Ibadat, contohnya di pinggir sungai Jamuna di Hindustan, hiduplah seorang yang dikabarkan dia seorang waliyullah. Saat sungai Jamuna naik dan agak bergelombang, banyak orang yang membawa dagangannya takut untuk menyebrang. Banyak orang mengatakan untuk datang ke waliyullah agar mendo’akannya. Saat orang datang untuk minta do’anya, wali itu mengelak tidak mau berkata apa-apa. Setelah didesak, akhirnya mau juga mengatakan, “katakan saja kepada sungai Jamuna bahwa kami diperintah oleh orang yang tak pernah makan dan tak pernah mendatangi istrinya, agar sungai berhenti bergelombang.” Orang-orang menjalankan apa yang dipedrintah sang wali tersebut, dan dengan idzin Allah, sungai itu tenang berhenti bergelombang/beriak. Istri waliyullah mendengar cerita tersebut, berkata kepada suaminya, “Sungguh engkau telah bohong, bukankah engkau makan setiap hari dan mendatangi aku juga?” Waliyullah itu menjawab, “Aku makan bukan untuk diriku, tapi aku makan karena melaksanakan perintah Allah, dan aku mendatangimu bukan untuk nafsuku, tapi semata-mata untuk menunaikan hak kamu sebagai istri saya.” Jadi sebagai orang yang beriman, maka kalau mau makan niat karena melaksanakan perintah Allah agar kuat ibadah, bukan karena tuntutan hawa nafsu. Sebagaimana ayat Al Qur’an, “Kuluu wasyrabuu…artinya makan dan minumlah kalian…
· Khalifah, niat makan agar kita bisa berkhitmat kepada manusia yang lain, sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Memindahkan air dari embermu ke ember saudaramu, maka dihitung sedekah.” Ada hadits lain mengatakan, “Mengangkat barang saudaramu ke punggung untanya, maka dihitung sedekah.”
Rumah.
Orang kafir membuat dan memakmurkan rumahnya untuk mengumpulkan barang-barang perhiasan dunia, semata-mata tempat berlindung dari panas, dingin dan hujan dan untuk kemewahan hidup, karena standar kesuksesan hidup bagi orang kafir adalah kemewahan. Sedangkan bagi orang yang beriman, rumah dibuat untuk ;
Orang kafir membuat dan memakmurkan rumahnya untuk mengumpulkan barang-barang perhiasan dunia, semata-mata tempat berlindung dari panas, dingin dan hujan dan untuk kemewahan hidup, karena standar kesuksesan hidup bagi orang kafir adalah kemewahan. Sedangkan bagi orang yang beriman, rumah dibuat untuk ;
· Dakwah, misalnya untuk menerima jama’ah masturah dan mendakwahi para tamu yang masuk ke rumah kita, dengan banyak mudzakarah kebesaran Allah, pentingnya amal agama dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
· Ibadah, dimana Rasulullah memerintahkan agar rumah kita bercahaya bagi penduduk langit, jangan rumah kita seperti kuburan, tidak ada amalan yang bercahaya, maka rumah harus diisi dengan ta’lim, shalat sunnah, baca qur’an dan dzikir.
· Khalifah, misalnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam selalu mencari orang lain untuk makan bersama di rumahnya. Demikian pula Al Mushtafa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganjurkan agar selalu berkhitmat kepada para tamu di rumah-rumah mereka.
Kendaraan
Orang kafir menggunakan kendaraan untuk pamer dan memudahkan hajat dunia mereka bahkan tak jarang juga untuk maksiat. Sedangkan orang beriman, menggunakan kendaraannya untuk :
· Dakwah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa barangsiapa yang memelihara kuda buat fi sabilillah, maka makannya, kotorannya dan kencingnya dihitung kebaikan. Maka kendaraan motor atau mobil yang digunakan fi sabilillah, maka semua yang dikeluarkan termasuk bensinnya dihitung kebaikan.
· Ibadah, sebagaimana mafhum hadits, “Ada tiga akibat yang akan diperoleh oleh orang yang memiliki kendaraan, yaitu 1. Masuk syurga karena digunakan untuk ibadah, 2. Tak mendapatkan apa-apa karena hanya untuk urusan dunia semata, dan 3. Masuk neraka karena menggunakan kendaraan untuk maksiat.
· Khalifah, misalnya kendaraan digunakan untuk mengantar jama’ah dakwah, menolong tetangga yang sakit atau kematian dan menunnaikan hajat-hajat makhluk.
Pernikahan
Orang kafir menikah untuk semata-mata nafsu dan keturunan, sedangkan orang beriman menikah untuk
· Dakwah, misalnya keluar masturah bersama istri dan menjadikan istrinya sebagai da’iyah. Karena wanita lebih banyak dari laki-laki sehingga jika wanita tidak dibawa dakwah, maka agama hanya sampai di pintu rumah saja, tetapi jika wanita berdakwah, maka agama akan masuk ke dalam rumah bahkan masuk ke dapur-dapur semua orang.
· Ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “2 rakaat bagi orang yang sudah menikah sama dengan 70 rakaat yang belum menikah.” Jadi wanita mempercepat laki-laki menjadi 35 kali lebih cepat kepada Allah.
· Khalifah, dimana dengan menikah kita bisa berkhidmat kepada orang di rumah kita, karena ada istri yang memasakkan makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar