Minggu, 08 Mei 2011

Istiqamah Ummat Akhir Zaman sebagaimana Diperintah

Sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, engkau telah beruban?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya aku tua karena Surat Hud. Masyaikh membertahu isi Surat Hud yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beruban adalah :
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya : “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud : 112)
Allah menghendaki istiqamahnya Nabi dan ummatnya kepada apa yang menjadi perintahNya, bukan sekehendak kita. Ayat ini tidak berbunyi :
فَاسْتَقِمْ كَمَا شِئْتَ....
Artinya : “Maka istiqamahlah sebagaimana engkau suka………….
Ada orang yang berdakwah sesuai jadwal atau panggilan ceramah agama/siraman rohani atau karena ada pemurtadan, bencana alam, ada pendhaliman baru dibentuk laskar jihad dan sebagainya, maka bukan seperti ini yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ini maknanya bukan istiqamah sebagaimana yang diperintah, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan. Istiqamah sebagaimana yang diperintah adalah dakwah atau usaha agama menuntut untuk terus dikerjakan hari demi hari tanpa henti karena semata-mata perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Nabi juga diperintah dalam QS Al Muzzammil, ayat 7 :
إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا
Artinya : “Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan (berenang) yang panjang (banyak)”.
Di sini ada kata سَبْحًا yang kata dasarnya artinya berenang bukan berjalan, dimana maksudnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diibaratkan berenang di tengah-tengah manusia dan tidak boleh berhenti. Seorang yang sedang berenang kemudian berhenti berenang (diam saja), niscaya akan tenggelam dan membahayakan dirinya. Seorang yang berhenti usaha dakwah atau sewaktu-waktu dakwah kalau ada panggilan atau tidak bergerak istiqamah dalam usaha dakwah atau dakwah menurut seleranya sendiri atau kalau ingin saya berdakwah, maka ini bukan seperti yang diperintah oleh Allah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah diangkat menjadi Rasul atau utusan, dengan turunnya QS Al Muddatstsir, ayat 1-3 :
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata kepada istrinya :
لاَرَيْحَتَ بَعْدَ الْيَوْمِ
Artinya : “Tidak ada istirahat lagi setelah hari ini….”
Jadi dikatakan istiqamah dalam dakwah, yaitu terus berdakwah dan selalu meningkatkan pengorbanan dalam dakwah. Apakah di suatu kampung ada pemurtadan, ada bencana alam dan sebagainya, tetap dibuat dakwah karena di satu pihak melaksanakan perintah Allah dan pihak yang lain menunaikan hak sesama muslim, yaitu saling menasihati untuk meningkatkan keimanan dan amal shalih dan menunaikan hak sesama manusia mengajak kepada Islam.
Kenapa Orang Indonesia Sulit Istiqamah?

Syaikh Khalid mengatakan Orang Indonesia sulit istiqamah karena negeri ini banyak bergantung kepada air (dikelilingi air), dimana sifat air adalah mudah ikut bentuk. Lihatlah kalau air dimasukkan ke wadah yang bundar, maka ikut bentuk bundar, dimasukkan dalam tempat yang kotak juga mengikuti tempatnya. Makanya orang Indonesia selalu ikut suasana dan keadaan yang sedang berlaku. Lihatlah di Markaz Pakistan banyak para mukimin orang markaz adalah orang-orang tua, semakin tua semakin istiqamah dan semakin menghabiskan masa untuk dakwah.Tetapi di Markaz Indonesia, semakin tua semakin istirahat, dan katakan yang muda saja yang di depan sebagai penerus generasi tua. Seharusnya semakin tua, semakin semangat tak mau kalah dengan yang muda, dan persiapan menghadapi kematian yang semakin dekat, semakin sungguh-sungguh. Kita lihat dalam kisah sahabat, bagaimana seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Abu Ayuub Al Anshary yang sudah berumur 93 tahun masih ikur berjihat di Turki bersaing dengan anak-anaknya dan akhirnya syahid.

Kenapa Orang Dakwah Ummat Akhir Zaman diperintah Ijtima’i.?

Hampir semua rukun Islam dijalankan secara Ijtima’i. Misalnya shalat diperintah dengan berjama’ah, puasa diperintah berjama’ah dalam bulan Ramadhan, zakat berjama’ah di baitul maal, dan haji diperintah berjama’ah di Makkah dan di bulan haji. Dari ibadah yang ijtima’iyat mustahil untuk mendatangkan ibadah kepada ummat dengan cara sendiri-sendiri (infiradi). Lihatlah keadaan sekarang ketika ummat Islam tidak bersatu dalam dakwah maka ummat Islam dalam keadaan tidak bersatu alias berpecah belah. Mereka ajarkan shalat kepada ummat karena infiradi sehingga hasilnya perpecahan. Tidak heran kalau ada masjid atau mushalla yang jamaah shalatnya sesuai dengan praktek pengamalan feqih ustadznya masing-masing, dan tidak mau datang ke masjid atau mushalla yang berbeda sesuai dengan kefahamannya. Demikian pula, ada ustadznya yang ingin menseragamkan cara shalat, seolah-olah kalau tak sama dengan sang ustadz maka shalatnya salah/bid’ah atau dia bukan golongannya. Misalnya kalau takbiratul ihram tangan tidak diletakkan di dada, maka selain tempat itu salah dan sebagainya. Padahal dalam Fadhail A’mal, Syaikh Zakaria rahimahullah menulis sekiranya orang mau mengerjakan shalat seperti cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya akan dijumpai ada 200 perbedaan pendapat dari takbir hingga salam. Maka hanya dengan dakwah secara ijtima’iyat yang bisa menyatukan ummat akhir zaman di mana saja berada, dengan kesatuan hati, fikir, kerja dan amalan. Dengan kesatuan inilah maka ummat Islam akan dapat mendatangkan pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar